Sabtu, 07 Oktober 2017

Esai untuk Beasiswa Baituzzakah Pertamina

Inilah Saya Bagi Keluarga dan Kontribusi Yang Telah, Sedang, dan Akan Saya Berikan untuk Indonesia

Indonesia, negara dengan beraneka suku bangsa dan bahasa dari mulai Sabang sampai Merauke, itulah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan tentunya dengan agama lain yang dianut oleh sebagian warga lainnya yang penuh dengan toleransi.
Bermukim di daerah Purwakarta dengan luas daerah kurang lebih 971, 72 kmdan jumlah penduduk sekitar hampir satu juta penduduk membuat saya sangat jauh untuk terlihat dipermukaan dengan prestasi yang telah atau sedang dilakukan saat ini.
Inilah saya bagi keluarga dan kontribusi yang telah atau sedang, dan akan saya berikan untuk indonesia, mungkin kontribusi  untuk indonesia sangat jauh dari kata sempurna untuk mengharumkan namanya, tetapi mengeluh tidak membuat kita menyelesaikan permasalahan atau pun memberikan kontribusi bagi negara ini, tidak mengapa kita tidak bisa mengerjakan atau melakukan kontribusi besar bagi Indonesaia, walaupun tidak seberapa tetapi jika satu kebaikan dikerjakan oleh banyak orang akan sangat terasa manfaatnya bagi masyarakat dan negara.
Seperti halnya prinsip dalam jual beli angka sepuluh itu bisa didapat jika kita mengkalikan satu dengan sepuluh atau satu di tambah sembilan, atau pun dua dikali lima atau seterusnya, begitu juga dengan kebaikan, jika kita tidak memberikan kontribusi kita seratus persen diri kita untuk berkontribusi bagi negara, maka kita melakukannya dengan mengajak teman-teman kita untuk berkontribusi memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Apa yang telah ataupun sedang saya lakukan tidak lah seberapa dengan perjuangan pejuang kemerdekaan pada masa lalu, yang mengorbankan waktu, harta bahkan nyawa sekalipun, mungkin ini menjadi salah satu motivasi bagi diri kita khususnya diri saya untuk membuat negara ini lebih baik, karena kita dapar berdiri dan tinggal dengan tenang di negara ini adalah berkat cucuran darah dan perjuangan orang tua kita dulu ketika mengusir penjajah di bumi Indonesia ini.
Kegiatanku selama ini yang bisa kubangga kan hanya sekedar membahagiakan kedua orang tua saya dan meringankan pekerjaan orang tua saya seperti halnya membereskan pekerjaan rumah, dan meringankan beban orang tua dalam hal material, seperti halnya tidak terlalu menuntut uang dengan berlebihan, dan mencari sendiri untuk memenuhi kebutuhan sebagai seorang wanita.
Awal pertama masuk kuliah semua dilakukan sendiri, sehingga dapat membantu orang tua dan me-manage keuangan dengan baik sehingga adik-adik yang membutuhkan pendidikan yang tinggi pun dapat dilaksanakan, kontribusi ini memang tidak seberapa untuk hitungan negara, tetapi mungkin cukup untuk membuat orang tuaku tersenyum, setidaknya tidak merepotkan.
Kontribusi yang lainnya yang bisa saya lakukan adalah dengan masuk ke BEM kampus daerah , tepatnya UPI kampus daerah Purwakarta, tidak ada yang salah selagi itu dapat bermanfaat untuk sekeliling kita, karena dalam BEM ini sebagian tridarma perguruan tinggi terlaksana salah satunya yaitu pengabdian terhadap masyarakat, dengan adanya agenda seperti halnya bina desa yang dilakukan untuk membantu anak-anak di pelosok desa yang ada di Purwakarta ini mendapatkan pendidikan yang layak untuk mereka.
Bukan berarti di desa tersebut tidak adanya sekolah, tetapi untuk membantu mereka yang tidak sekolah mendapatkan pendidikan, meskipun tidak semaksimal disekolah, selain itu bukan hanya kegiatan belajar mengajar yang kita lakukan disana, tetapi kegiatan kemasyarakatan pula kami kerjakan dan pelajari, seperti halnya dalam hal sumber daya alam yang dapat menghasilkan pundi-pundi uang yang nantinya dapat menghasilkan produk atau pun bahan yang dapat menjadi nilai jual tinggi.
            Sekian dari tulisan saya. Semoga bisa menjadi pertimbangan yang lebih dalam penyeleksian penerimaan beasiswa Baituzzakah Pertamina.


Selasa, 13 Desember 2016

Entahlah~

Satu hal yang ku takutkan dalam kehidupan ini, KESENDIRIAN.


Aku bukan siapa-siapa jika hanya seorang diri. Aku bukan apa-apa jika hanya seorang diri. Dan aku tak akan bisa melakukan apapun jika hanya seorang diri.


Tapi kini, apa? Aku merasa sendiri ditengah keramaian. Keriuhan, kegaduhan dari urusan tiap manusia yang begitu membelit pikiran. Aku takut. Aku takut sendiri. Namun bila tak ada seorang pun yang ingin didekatku, menemani hari-hari sepiku, lalu aku bisa apa? Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Jerit ketakutan akan berdiri sendiri tanpa kehangatan hati orang lain.


Aku hanya butuh seorang teman, Tuhan. Aku hanya butuh seorang. Tak lebih. Aku ingin sahabat.


Mungkin jeritanku seperti jeritan seorang anak remaja yang baru tumbuh dan menjelma menjadi sesosok "anak alay"? Aku tak peduli apa katamu. Tapi aku sudah bertahun-tahun meminta ini dari-Mu, Tuhan. Aku tahu, menemukan seseorang tak semudah menemukan ribuan orang. Karena seseorang yang spesial itu takkan hanya menjadi seorang yang biasa.


Aku menantikan kehadiranmu, sahabat. Kemarilah secepatnya. Nyawaku sudah sekarat menunggu pelukan erat seorang sahabat dari surga.


Sahabat. Aku tak mau sendiri lagi.


Jumat, 25 november 2016


-Diatap penuh arti dan kesendirian

Minggu, 16 Oktober 2016

Daily Diary

Ini kisah kita dihari ini. Meretas kesedihan dan kesakitan yang menumpuk dalam dada kita. Kecewa pun tak luput dari kejaran hati yang memberontak tanpa pernah tau, sekuat apa kita bertahan. Rindu yang seketika itu sirna entah kemana ia bermuara. Semua hanya karena satu kata. Dan tiap tetes air mata yang tumpah, mencoba mengusir rasa-rasa itu, semoga tak berujung pada gelapnya warna kebencian.


Ini kisah kecil dari ribuan yang lain. Benda penghibur duka yang mampu membuatku tersenyum dan mengingatkan, aku milikmu, kau milikku. Dan saat itu, aku telah menjelma menjadi sesosok bocah kecil yang menangis di hadapanmu. Tak ada yang salah. Namun takdir yang mencoba memisahkan hati-hati kecil kita. Ya, kau dan aku.

Kamis, 21 Juli 2016

May Lose || ChocoCandy GIRL's Post

Aku seperti terambang dalam kekosongan. Mengalir dan tak tahu akan bermuara kemana. Aku rasa ini sudah terlalu lama. Iya, aku menunggumu. Tapi kata-katamu memang tak pantas kau ucapkan disini karena kau tak pernah tau arti dari kalimat yang ku lontarkan padamu.
Ya. Aku seperti cangkang kacang yang terinjak. Hanya kepingannya yang tersisa. Untuk bagian lain, semua sudah berubah menjadi bubuk dan akan segera menyatu pada debu.
Saat aku tersadar, apa kurangnya? Ketika sebagian mereka tak punya ayah, ibu, bahkan keduanya hingga sanak saudaranya. Apa aku harus lari padamu yang jika ku tanya, kapan kau akan datang ke rumah dan menghadap kedua orang tuaku? Jawabanmu selalu nanti.
Ya. Aku lelah mendengarmu. Mendengar celotehmu yang tak ada habisnya dan sepertinya semua perkataanmu benar. Aku yang bodoh bisa apa?
Saat kau gambarkan ini itu tentang masa depan kita. Ya. Masa depan kita. Semua terlihat indah dan menyenangkan. Kau tak pernah katakan bahwa hidup ini pun ada sulitnya, maka “apa aku bersedia untuk berada dalam keadaan yang sulit denganmu?”
Aku mencoba untuk lebih realistis lagi dalam hari-hari bersamamu. Kau tak pernah tau, susahnya aku dalam memupuk kedewasaan itu seorang diri! Kau hanya tau aku yang seperti anak kecil tak tahu malu.
Aku kehilanganmu tetapi aku tak merasa kehilanganmu. Dan sudah ku katakana padamu bahwa, if you could read my mind, you’ll be in tears.


Rabu, 20 Juli 2016
-in your mood
-in your heart situation

Selasa, 12 April 2016

Saat DIA Membimbingku || ChocoCandyGIRL's Note

Ku tinggalkan separuh hati saat Allah membimbingku untuk menuju-Nya.
Ku titipkan sekeping hati kepada-Nya.
Aku tau, Dialah sebaik-baik tempat untuk menitipkan segalanya.
Meski aku harus menangis beribukali dan merasa bahwa aku takkan bisa hidup tanpanya, itu MUNA!
Yang aku butuhkan dalam hidup hanya Dia dan kedua orang tuaku sebelum ada seorang lelaki yang berani menghampiri rumah kami untuk meminangku dan mengganti posisi kedua orang tuaku.
Aku memang belum baik dalam segala hal.
Aku seperti seorang anak yang durhaka telah menabung begitu banyak dosa untuk kedua orang tuaku dengan menjalani hal seperti pacaran ini.
Pintar sekali aku,
Yang belum tentu bisa membawa kedua orang tuaku ke syurga atau bahkan memberikan jubbah juga mahkota syurga kepada mereka tetapi aku mengisi ruang dosa untuk mereka?
Ha!
Akulah anak tak tahu diri itu!

Rabbi..
Seandainya Engkau tak beri aku kesempatan juga rahmat dan hidayah-Mu, mana mungkin aku bisa sekuat ini?
Mana mungkin aku bisa sepasrah ini?
Mana mungkin aku bisa seikhlas ini?
Rabbi..
Bantu hamba-Mu yang lemah ini untuk belajar mengikhlaskan segalanya.
Bantu hamba-Mu ini untuk bersabar dalam penantian.
Engkaulah dzat yang Maha Membolak-balikkan hati hambanya, aku hanya memohon keistiqomahan jiwa yang bertengger dalam asa dan ketegasan.
Maha Suci Engkau, Rabbi..
Jika memang dialah yang tertulis di lauh mah’fudz sebagai jodohku, maka dekatkanlah.
Jika bukan, mungkin ini memang yang terbaik dari pilihan-pilihan yang terbaik dari-Mu.
Aku hanya ingin menanti dalam taat, yang diliputi keridhaan dan berkah yang melimpah dari kedua orang tuaku juga Engkau
Hari ini ku putuskan untuk menjaga jarakku dengannya meski hanya sekadar membalas SMS darinya.
Allahu Rabbi..
Kuatkan. Kuatkan….




ChocoCandygirl running to Hijrah (Ahad, 3 April, 2016) > gamparan terbaik untukku. Bersabarlah! Allah always be with you

Rabu, 10 Februari 2016

Curcol di hari ini | CHOCOCANDY GIRL

                Mungkin saat ini aku sedang terkena syndrome kemalasan menulis yang berkepanjangan. Yang awalnya niat buat bikin novel paa liburan semester 1 kemarin aja GATOT alias GAGAL TOTAL. Ahh..azzamku memang jarang sekali terlihat berjalan dengan lancer tanpa hambatan! Seringkali hanya semangat di awal. Yaa sudahlah.
                Hari ini. Aku akan bercerita tentang hari ini bahwa hari ini memang campur aduk. Dari mulai sedih, bahagia, galau, sampe bingung tujuh keliling sudah aku alami dalam waktu singkat yang bernama “hari ini”.
                Di mulai dengan rutinitas pagi untuk siap-siap bikin sesuatu dan berakhir terlalu cepat datang ke kampus. Disitu hanya ada aku dan Meli di kelas. Mungkin di hari ini juga aku mendapat gelar sebagai anak terajin di kelas setelah Meli dan di susul dengan mahasiswa/i lainnya. Iya. Kami termotivasi untuk datang ke kelas lebih pagi dari biasanya karena di matkul pertama akan ada dosen dengan kedisiplinan tingkat tinggi. Karena sampai dikelas itu sekitar jam 7:05, maka aku memutuskan untuk mampir ke masjid dahulu daaaann ternyata jam 7:30 juga Gin-chan udah ngeWA terus ke aku buat ngasih tau kalau dosen udah dateng, Cuma akunya aja yang gak sadar dan lanjut terus jalan lurus sampe kelas. Pas sampe kelas kaget, kok dosennya beda?! Ternyata ini lho dosen asalnya yang memang benar-benar ahli bermusik(karena ini matkul Pendidikan Seni Musik), bukan seperti dosen pengganti yang minggu lalu, kalau beliau itu ahli dalam seni tari, bukan seni musik -_-
                Oke. Aku ngerasa pusing kalo harus nyeritain secara rinci tentang kegiatan hari ini. Aku akan memulainya dengan penjabaran dari rasa-rasa di hari ini:
Sedih(karena kepala aku sedikit pusing dihari ini)
Galau(bingung waktu mau ikut kumpulan ato ngga. Karena alesan yang sebenernya cuma karena gak tau jalan buat sampe ke sekre dan akhirnya aku bener-bener gak bisa ikut kumpulan(lagi) untuk kesekiankalinya karena ada berita harus ketemu sama si teteh koperasi)
Bahagia(bahagiaku yang pertama ialah saat melihat senyum ibu mengembang untuk melepasku pergi dari rumah dan berangkat ke kampus, dan yang kedua karena “ngeledek” Gin-chan bareng Ni-chan kalo Gin-chan di sukain sama dosen seni musik.hoho itu hal yang paling lucu dihari ini yang bisa pusing aku hilang seketika)
Ahh akhirnya, sudah! Itu cukup!
Mumpung aku lagi mood ngetik dan punya sedikit waktu longgar karena besok kuliah masuknya sekitar jam 9.30(itu juga kalo dosennya gak ngaret, biasa..dosen tuir) -_-
Aku aka bercerita tentang kakak tingkat yang lagi berusaha pedekate sama aku. Yaa..bisa dibilang dia itu mirip si dia(nah lho, jadi bingung). Maksudnya, si F itu mirip R yang aku suka. Dari mulai sifat, sikap sampe goldarnya aja sama-sama O. Lahir mereka aja Cuma beda dua hari. Gimana gak keren coba?! Karna baru kali ini aku menemukan sesosok makhluk asing yang serupa dengannya.
Kalau berbicara tentang F. F juga gak kalah pinternya kok, sama R. F juga well in public speaking, supel, lucu, gak garing. Yaa kurang lebih kayak R. maka dari itu aku sering menyebut mereka dengan sebutan “kembaran”. Secara fisik mereka berbeda. Dari mulai rambut pun sudah berbeda sekali dengan rambut R yang galling. Tapi mungkin kalau tinggi, mereka sama kalik ya..sekitar 170cm keatas. Unfortunately, aku lebih dulu kenal R daripada F yang baru-baru ini aku tau orangnya. Sebenarnya aku juga nggak nyalahin waktu yang mempertemukan aku dan F dengan telat. But, ini Cuma masalahin perasaan dia aja yang “kenapa harus dateng di saat-saat kayak gini?!”. Well, F gak pernah bilang “aku suka kamu, ghiffa”. Tapi dari tindak-tanduknya yang seperti ayam jago berusaha melindungi betina sihh..lama-lama aku peka juga. Walaupun aku dapat predikat jadi “makhluk ter-nggakpekaan banget” dari Gin-chan sama Ni-chan, tapi tetep aja ujungnya aku bisa sadar juga. Meskipun itu harus memakan waktu yang tidak sedikit:’D
                Belum lama kemarin, F ngajak aku main untuk kesekiankalinya. Dan pas aku bilang “iya”, eeehh malah gak jadi. Yaudah, kebetulan kalo begitu.
                Dan udah sejak tiga hari terakhir juga dia gak kontak aku, sampe ketemu di kampus juga, di mlengos gitu aja. Entah karena aku telat liat ato karena SMS terakhir aku yang bilang kalo aku gakan ngontak dia lagi. Arghh..bener-bener bingung sama kelakuan makhluk alien saat ini! Mungkin saat nikah nanti adalah waktu-waktu terbebas dari memikirkan soal “cinta yang lain” yang muncul tak terduga dan bukan dari hati aku sama sekali. Iya, maksudnya aku cukup mencintai suamiku karena Allah. Gak lebih gak kurang:’D
                Hmmm…
                By the way, soal nikah. F juga sukak bilang “kamu nikah sama aku”. Kenapa harus ikut-ikutan kayak R lagi?! Kalian tu bener-bener mirip banget. Kayak pinang dibelah dua. Tapi yaaa…entah kapan aku nikah. Kuliah aja baru semester 2:’D
                Tapi ibu bilang kalo ada yang ngelamar di tingkat 3 nanti dan aku juga mau sama orang itu, hmm…aku bakal dapet restu:D
                Aku berharap bisa nikah sama Ramdani. Ooohh…Ramdani. I’m falling in love with you.


__You’ll never know about this__

Sabtu, 12 Desember 2015

SATURATION POINT || ChocoCandyGIRL's Note

                Saat seluruh problema kehidupan itu menumpuk di otakku yang hampir pecah karena memikirkannya, apa yang harus aku perbuat selain mengadu hanya pada-Nya? Menyimpannya sendiri dan jika ada waktu, menuliskannya dalam diary atau blogging. Membicarakan dan melepaskannya pada teman? Ha? Apa itu teman? Aku tidak tahu. Yang ku tahu, hidup di dunia ini tidak ada yang namanya “TEMAN”. Semua hanya saling terkoneksi satu sama lain layaknya jaringan partikel-partikel elektron yang ada dalam sebuah benda yang bernama TV.
                Inilah titik kejenuhanku terhadap kehidupan. Titik jenuhku yang mulai terasa pada seluruh aktivitas-aktivitas kehidupanku sehari-hari. Semua bukan berarti aku “bosan hidup dan ingin mati”. Justru aku merasakan ketakutan pada kematian jika aku harus mati saat ini juga. Aku sadar, kematian berjalan sekitar 60KM/jam menghampiri kehidupan manusia. Siap untuk mencabut dan mematikan sel-sel yang ada dalam tubuh manusia.
                Jika kau bertanya, mengapa tiba-tiba aku mengingat kematian? Jawabannya cukup simpel. Hanya karena semalam aku tertidur dan bermimpi mendapati orang-orang terdekatku meninggal. Aku memang tak melihat seorang lelaki asing yang ku sayangi tetapi, itu semua cukup untuk membuatku sadar bahwa kehilangan itu memang sangat-sangat menyakitkan. Di dalam mimpi itu, aku menangis, meratap. Aku memang tak menemukan sosok kedua orang tuaku atau kakekku satu-satunya tetapi, cukuplah dalam mimpi itu dadaku merasa sesak dan mataku memanas karena ingin menangis melihat adikku yang cerdas dan sholehah itu pergi. Aku ingat perkataanku pada adik pertamaku, ines, “Dut, jangan pergi! Kakak gak sanggup kalo harus berjuan sendirian untuk sukses. Kakak gak mampu kalo harus jadi sholehah sendiri tanpa ada bawelan dari ines. Dut, elo cerdas, masa elo Cuma meninggal aja sih?! Katanya mau jadi pengusaha? Ayo, dut, bangun! Kakak masih butuh ajaran MTK dari elo.” Ahh..baper! kenapa aku jadi nangis gini?! Kebayang, perasaan tadi malem kayak apa. Sedih. Astaghfirullah hal ‘adziim.
                Oke. Selesai sesi tangis-menangisnya :) lanjut ke selanjutnya.
                Berbicara tentang pertemanan. Yahh..aku rasa, hingga detik ini pun aku belum memiliki seorang sahabat spesial yang bisa ku ajak kesana-kemari dengan persamaan pemikiran, visi-misi, hobi, perasaan dan pengalaman. Dan yang paling penting, kesamaan untuk berhijrah bersama menuju keridhoan-Nya. BELUM ADA!
                Saat SMK dulu, aku berharap akan menemukan soulmate yang asyik dan bersahaja di lingkungan kuliah nanti. Tapi saat aku kuliah sekarang? Mana? Siapa soulmate itu? Gak ada, ghif. Itu kenapa aku tak mengenal yang namanya “TEMAN”. Padahal, aku sadar, keinginanku tak banyak untuk menemukan seorang sahabat terbaik dalam hidup. Hanya memiliki perasaan, visi-misi, hobi, pemikiran dan pengalaman yang sama sepertiku hingga jiwa kita bisa bersatu. Selain itu, aku menginginkan teman yang berjalan menyusuri lorong kampus menuju masjid hanya untuk melaksanakan sholat dhuha bersama. Di dalam masjid itu, kami membaca Al-Qur’an bersama. Dan saat waktunya mepet karena jadwal matkul yang berdekatan, kami lari dari tangga masjid hingga tangga kelas dan berjalan memasuki kelas yang sudah ada dosennya. Impian seorang sahabat untukku ialah dia yang memiliki kesamaan dalam membaca. Entah membaca novel, komik, atau buku-buku motivasi lainnya karena aku menyukai semuanya. Seorang sahabat yang aku impikan ialah dia yang berusaha untuk menjadi seorang akhwat fillah, aktivis dakwah dan mengajakku untuk masuk kedalamnya, berbaur dengan orang-orang sholeh-sholehah lainnya, seorang sahabat yang tidak ingin aku masuk kedalam organisasi/kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Dan seabrek kritria sahabat pada umumnya(tidak ingin melihat sahabatnya menangis, tertawa bersama, berduka bersama, menjalankan aktivitas kuliah bersama, bahkan berlibur bersama, dll).
                Ingin ku katakan pada-Nya, “mencari sahabat dalam keridhoan-Mu itu susah, ya Rabb:’) ”.
                Setiap kali aku mendengar lagu nasyid melayu dari Brothers yang berjudul Teman Sejati, dadaku terasa sesak karena didalam liriknya, itulah simpul kriteria sahabat fillah yang kucari selama ini, aku belum menemukannya. Oke, belum. Sebagai seorang calon pendidik anak bangsa dan anak-anakku kelak, aku harus optimis. Jadi, BELUM.
                Jika aku mengingat relasiku dalam kampus, yaa mungkin belum terlalu banyak aku mengenal mahasiswa lainnya. Makhluk sejenisku ini sangatlah introvert. Hingga ada teman sekelasku yang bertanya dengan sindiran, “Ghif, kamu kok enak ya hidupnya, diem aja, kayak gak banyak beban. Kalo ada apa-apa, cerita aja sama temen lainnya kan, banyak. Jangan di pendem sendiri!” Dan akhirnya, dia mengakui kalau kata-kata awalnya memang benar-benar sindiran terhadap sikapku dikelas. Itulah kenapa aku tidak pernah berharap untuk bisa berjodoh dengan seorang yang introvert. Dan sejauh yang ku tahu, dia, seorang lelaki asing yang sangat ku sayangi karena-Nya adalah seorang yang ekstrovert. Everything we have are completely each others. ILYSM.
                Ngalor-ngidul kemana aja sampe ke dia -_- balik lagi ke topik.
                Belum lama ini, aku dekat dengan dua orang dari kelasku yang bernama Gina dan Veni. Aku rasa, akhir-akhir ini kami seperti tiga sejoli yang kompak dan kemana-mana harus bersama. Hingga kemarin aku menyadari bahwa Veni hanya menginginkan Gina, bukan Ghiffa, aku mulai mundur perlahan. Dan pada hari ini, yang biasanya kami duduk bertiga secara berdekatan, tetapi kali ini tidak. Orang yang pertama kali bertanya dan memintaku untuk duduk bertiga lagi ialah Gina. Entahlah. Ini adalah hal yang ku benci dari pertemanan tiga sejoli! Ini adalah alasan mengapa aku hanya ingin satu sahabat, karena ketiganya tidak akan pernah bersatu secara utuh, pasti saja ada teman yang “paling dekat”. Dan siang menuju sore ini, mereka mengirim SMS padaku, menanyakanku “kenapa?”. Terima kasih. Kalian masih peduli padaku. Pada manusia serba salah yang memiliki masalah yang banyak sepertiku:’)

                Actually, aku sayang sama mereka. Mereka yang baik, yang mau membantuku saat aku terjebak dalam masalah yang ku buat sendiri pada Ibu. Mereka yang baik, yang memberikanku tempat untuk sendiri di kostan Veni, dan disitu aku puas menangisi dan menyesali segalanya. Tetapi ada keganjalan yang menyangkut pada jiwaku tentang mereka, aku belum merasakan perasaan berhijrah bersama. Entahlah,padahal mereka juga dalam proses menuju perubahan. Aku hanya malu jika harus terus menerus menceritakan masalahku sehari-hari pada mereka, sedang Veni?  Hanya mau berbagi masalah pada Gina.  Ahh..! Akulah makhluk yang serba salah dan tak mau bersyukur itu. Iya, itu aku, Ghiffary Amanda Sastre.